Para ahli menemukan
bahwa laba-laba telah menggunakan cahaya ultraviolet dalam jaringnya untuk
memikat mangsanya datang. Hal tersebut terungkap setelah para peneliti di
Australia meneliti rahasia di balik jaring yang cantik tersebut. Selama ini
jaring laba-laba dikenal sangat lengket dan kuat, bahkan melebihi baja, namun
jarang diteliti aspek bentuknya.
"Kami benar-benar
ingin mengungkap mengapa laba-laba menghabiskan energi untuk menghias
jaringnya," ujar Dieter Hochuli dari Universitas Sydney, Australia. Dalam
penelitian tersebut, ia dan timnya menguji pengaruh cahaya utraviolet terhadap
efektivitas jerat laba-laba.
Hal tersebut didasari
fakta bahwa beberapa jenis bunga memantulkan cahaya ultraviolet yang menarik
perhatian serangga. Jika jaring laba-laba memantulkan cahaya yang sama, berarti
fungsinya mirip dengan bunga untuk merayu serangga.
Hochuli dan koleganya
kemudian melakukan percobaan dengan jaring laba-laba asli dan jaring laba-laba
yang dilapisi plastik penyaring ultraviolet. Mereka kemudian memantau berapa
banyak serangga yang tertanggap dalam beberapa hari.
Lalat, lebah, tawon, dan
nyamuk tertangkap baik di kedua jaring. Namun, pada jaring yang dilapisi
plastik antiultraviolet jumlahnya jauh lebih sedikit. Jumlah nyamuk tetap
sebanding karena serangga ini tidak dapat melihat cahaya ultraviolet.
"Laba-laba
sepertinya memanfaatkan kemampuan sejumlah mangsanya yang dapat melihat cahaya
ultraviolet," jelas Hochuli. Pada penelitian berikutnya para peneliti akan
mempelajari pengaruh bentuk sarang yang bervariasi sesuai jenis laba-laba yang
membuatnya.
Manfaat
jaring laba-laba
Jaring laba-laba dapat
dipakai untuk menyambung otot (tendon) atau memulihkan ligamen yang rusak.
Selain sangat kuat, serat alami ini tidak menyebabkan infeksi.
Penggunaan serat untuk
aplikasi medis sebenarnya telah diceritakan sejak sekitar 2.000 tahun lalu. Di
antaranya untuk melawan infeksi, mencegah pendarahan, dan menutup luka.
Meski demikian, para
ilmuwan belum menemukan bukti bahwa jaring laba-laba dapat membunuh kuman.
Sejauh ini, hasil percobaan pada hewan menunjukkan bukti-bukti awal bahwa
jaring laba-laba tidak menghasilkan respon kekebalan terlalu besar sehingga
dapat diterima tubuh.
Para peneliti di
Universitas Tufts, Massachusetts telah membuktikan bahwa jaring laba-laba dapat
dirangkai untuk memulihkan jaringan penyambung tulang (ligamen) yang rusak.
Percobaan ini berhasil pada ligamen jenis ACL (anterior cruciate ligament) yang
biasanya rusak pada penderita cedera lutut.
"Kami juga melihat
potensi jaring laba-laba untuk tendon buatan," kata Randolph Lewis dari
Universitas Wyoming, AS. Para ilmuwan telah memanfaatkannya untuk membuat
benang operasi untuk menutup luka bekas operasi, mata, atau, menyambung
jaringan syaraf.
Namun, Lewis dan para
peneliti lainnya belum dapat menghasilkan jaringan yang siap pakai. Untuk
menghasilkan material seperti jaring laba-laba dalam jumlah besar, Lewis
memanfaatkan alfalfa, tumbuhan semak yang biasa dipakai sebagai pakan kuda di
Amerika. Sedang peneliti lainnya coba membuat protein jaring laba-laba dalam
susu kambing.
Mereka dapat
menghasilkan jaring di luar tubuh laba-laba dengan cara menyisipkan gen yang
dimiliki laba-laba ke sel yang menjadi targetnya. Penelitian terakhir yang
sedang dilakukan Lewis dilaporkan dalam jurnal Chemical Reviews.












0 komentar:
Posting Komentar